Integrasi SATUSEHAT bukan sekadar menghubungkan Rekam Medis Elektronik (RME) dengan platform kesehatan nasional. Fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) juga perlu memastikan bahwa data yang dihasilkan selama pelayanan pasien dapat dikirim dengan struktur yang sesuai.
Misalnya, dokter sudah mencatat diagnosis dan membuat resep, tetapi informasi penyerahan obat belum tercatat secara digital. Pada kasus lain, dokter meminta pemeriksaan laboratorium, tetapi data spesimen dan hasil pemeriksaan belum terhubung dengan permintaan tersebut. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa pencatatan di dalam sistem belum tentu berarti seluruh data terkait sudah berhasil dipertukarkan.
SATUSEHAT menggunakan standar interoperabilitas HL7 FHIR untuk merepresentasikan informasi kesehatan dalam bentuk resource. Setiap resource memiliki fungsi tersendiri, mulai dari data kunjungan dan diagnosis hingga hasil pemeriksaan, obat, dan rencana perawatan.
Mengapa Kelengkapan Resource SATUSEHAT Perlu Diperhatikan?
Kebutuhan integrasi data kesehatan berkembang seiring penerapan rekam medis elektronik dan kebijakan pemerintah. Fasyankes perlu memperhatikan bukan hanya status koneksi, tetapi juga jenis data yang dikirim dan kesesuaiannya dengan ketentuan yang berlaku.
Berikut beberapa regulasi dan kebijakan yang menjadi konteks penerapan RME dan pertukaran data SATUSEHAT.
| Tahun | Regulasi atau Kebijakan | Pokok Pengaturan |
|---|---|---|
| 2022 | Permenkes No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis | Penyelenggaraan rekam medis elektronik di fasilitas pelayanan kesehatan |
| 2022 | KMK No. HK.01.07/MENKES/1423/2022 | Pedoman variabel dan metadata dalam penyelenggaraan RME |
| 2023 | SE Menkes No. HK.02.01/MENKES/1030/2023 | Ketentuan pengiriman data kunjungan dan diagnosis pada implementasi SATUSEHAT |
| 2026 | Surat Dirjen Kesehatan Lanjutan No. YM.02.02/D/971/2026 | Pengenaan sanksi administratif terkait penyelenggaraan RME pada rumah sakit yang belum memenuhi ketentuan pengiriman data |
| 2026 | Surat Edaran Bersama Kemenkes, Kemendagri, BPJS Kesehatan, dan BSSN, 30 Juli 2026 | Percepatan integrasi RME dengan SATUSEHAT dalam pengelolaan klaim JKN |
Perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan data medis yang konsisten. Namun, fasyankes tetap perlu memeriksa isi regulasi dan petunjuk teknis terbaru untuk memastikan kewajiban yang sesuai dengan jenis fasilitas serta layanan yang diselenggarakan.
Apa Itu Resource SATUSEHAT?
Resource merupakan representasi data dengan struktur tertentu dalam standar HL7 FHIR (Fast Healthcare Interoperability Resources). Dengan struktur tersebut, informasi kesehatan dapat dipertukarkan antarsistem tanpa harus bergantung pada format internal masing-masing aplikasi.
Dalam implementasinya, sejumlah terminologi dan kode standar digunakan untuk menjaga konsistensi data, antara lain:
- ICD-10: untuk klasifikasi diagnosis.
- ICD-9-CM: untuk klasifikasi tindakan medis dalam konteks yang relevan.
- LOINC: untuk mengidentifikasi jenis pemeriksaan dan hasil pengukuran tertentu.
- SNOMED CT: untuk merepresentasikan konsep klinis yang sesuai dengan implementasinya.
- KFA: untuk identifikasi obat dan alat kesehatan dalam ekosistem terkait.
Selain data klinis, fasyankes juga perlu menyiapkan data induk seperti Organization, Location, Practitioner, dan Patient. Data tersebut membantu mengidentifikasi fasilitas, lokasi pelayanan, tenaga kesehatan, dan pasien yang terkait dengan transaksi klinis.
Perlu dibedakan pula antara sandbox dan production. Sandbox digunakan untuk pengujian integrasi, sedangkan production digunakan untuk pertukaran data operasional. Karena itu, keberhasilan pengujian di sandbox belum dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh alur pengiriman data di lingkungan production sudah berjalan baik.
Tabel Daftar 19 Resource SATUSEHAT
Berikut ringkasan 19 resource yang perlu dikenal oleh tim medis, rekam medis, farmasi, laboratorium, dan teknologi informasi.
| No. | Nama Resource | Fungsi Utama | Contoh Data |
|---|---|---|---|
| 1 | Encounter |
Mencatat kunjungan atau interaksi pelayanan pasien | Kunjungan rawat jalan atau IGD |
| 2 | Condition |
Mendokumentasikan diagnosis atau kondisi pasien | Diagnosis ISPA |
| 3 | Observation |
Mencatat hasil pengukuran dan pengamatan klinis | Tekanan darah, suhu tubuh, hemoglobin |
| 4 | Procedure |
Mendokumentasikan tindakan medis yang dilakukan | Jahit luka, nebulisasi, scaling gigi |
| 5 | Composition |
Menyusun struktur dokumen klinis | Dokumen atau ringkasan klinis terstruktur |
| 6 | Immunization |
Mencatat pemberian imunisasi | Vaksin hepatitis B |
| 7 | MedicationRequest |
Mencatat resep atau permintaan obat | Resep amoksisilin |
| 8 | MedicationDispense |
Mencatat penyerahan obat | Penyerahan 15 tablet obat |
| 9 | AllergyIntolerance |
Mendokumentasikan alergi atau intoleransi | Alergi penisilin |
| 10 | ImagingStudy |
Mencatat informasi studi pencitraan medis | Pemeriksaan rontgen toraks |
| 11 | ServiceRequest |
Mencatat permintaan pemeriksaan atau layanan | Permintaan darah lengkap |
| 12 | ClinicalImpression |
Mencatat penilaian klinis | Kesimpulan dan prognosis |
| 13 | Specimen |
Mendokumentasikan sampel pemeriksaan | Sampel darah vena |
| 14 | DiagnosticReport |
Merepresentasikan laporan hasil diagnostik | Laporan darah lengkap |
| 15 | CarePlan |
Mendokumentasikan rencana perawatan | Jadwal kontrol ulang |
| 16 | MedicationStatement |
Mencatat informasi penggunaan obat pasien | Riwayat konsumsi amlodipin |
| 17 | QuestionnaireResponse |
Menyimpan jawaban formulir terstruktur | Jawaban skrining kesehatan |
| 18 | Medication |
Merepresentasikan informasi produk obat | Kode KFA dan bentuk sediaan |
| 19 | EpisodeOfCare |
Mengelompokkan rangkaian pelayanan dalam suatu episode | Pemantauan penyakit kronis |
Nama dan pemetaan resource pada implementasi dapat mengikuti tampilan dashboard atau playbook SATUSEHAT. Tabel ini merupakan ringkasan konseptual; contoh penggunaannya perlu disesuaikan dengan spesifikasi teknis yang berlaku.
Penjelasan Lengkap Fungsi 19 Resource SATUSEHAT
1. Encounter — Kunjungan Pasien
Encounter merepresentasikan interaksi pasien dengan fasilitas atau tenaga kesehatan. Data ini dapat mencakup jenis pelayanan, waktu kunjungan, lokasi, tenaga kesehatan yang menangani, serta status pelayanan.
Contohnya adalah pasien yang datang ke klinik umum, menjalani pemeriksaan di poli gigi, atau memperoleh pelayanan di instalasi gawat darurat.
Kunjungan menjadi konteks penting bagi banyak data klinis lainnya. Jika identitas pasien atau status kunjungan tidak tercatat dengan benar, data diagnosis, resep, dan pemeriksaan yang berkaitan dapat kehilangan konteks atau mengalami kendala saat dipertukarkan.
Karena itu, fasyankes perlu memastikan proses registrasi, identifikasi pasien, dan penyelesaian kunjungan berjalan konsisten.
2. Condition — Diagnosis dan Kondisi Pasien
Condition digunakan untuk merepresentasikan diagnosis atau kondisi kesehatan pasien. Data dapat mencakup kode diagnosis, status kondisi, dan keterkaitannya dengan pelayanan yang sedang berlangsung.
Contohnya adalah diagnosis infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hipertensi, atau diabetes melitus.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah penggunaan kode diagnosis yang sesuai. Apabila diagnosis hanya ditulis sebagai teks bebas tanpa pemetaan yang diperlukan, informasi tersebut mungkin belum memenuhi struktur yang dibutuhkan untuk pertukaran data.
Pencatatan diagnosis yang terstruktur juga membantu menjaga konsistensi antara dokumentasi klinis dan proses administrasi yang relevan.
3. Observation — Hasil Pengukuran dan Pemeriksaan
Observation merepresentasikan hasil pengamatan atau pengukuran terhadap kondisi pasien. Resource ini dapat digunakan untuk data tanda vital, pengukuran fisik, dan parameter pemeriksaan tertentu.
Contohnya meliputi:
- Tekanan darah 130/85 mmHg.
- Suhu tubuh 37,8 °C.
- Saturasi oksigen.
- Berat badan dan tinggi badan.
- Hasil pemeriksaan laboratorium seperti hemoglobin.
Data pengukuran perlu dicatat pada kolom yang sesuai agar dapat dikenali sebagai data terstruktur. Jika seluruh tanda vital hanya ditulis dalam satu kolom catatan bebas, sistem mungkin tidak dapat memetakan setiap parameter secara tepat.
Penggunaan kode pemeriksaan dan satuan yang sesuai juga membantu menjaga konsistensi informasi.
4. Procedure — Tindakan Medis
Procedure digunakan untuk mendokumentasikan tindakan atau prosedur yang benar-benar dilakukan terhadap pasien.
Contohnya adalah jahit luka, nebulisasi, pemasangan infus, pencabutan gigi, atau scaling gigi.
Pada sebagian alur kerja, tindakan dapat tercatat dalam tagihan atau sistem kasir tanpa terdokumentasi dengan baik pada catatan klinis. Akibatnya, data tindakan mungkin tidak ikut dipertukarkan sebagai bagian dari rekam medis.
Fasyankes perlu memastikan tindakan dicatat pada alur klinis yang sesuai, termasuk informasi waktu, pelaksana, dan hubungan dengan kunjungan pasien.
5. Composition — Struktur Dokumen Klinis
Composition merepresentasikan struktur dokumen klinis yang tersusun dari bagian-bagian informasi terkait.
Dalam pemetaan tertentu pada dashboard SATUSEHAT, resource ini ditampilkan dengan nama Resume Diet. Contoh informasi yang berkaitan dapat berupa dokumentasi instruksi atau anjuran diet yang diberikan dalam pelayanan.
Namun, secara konsep HL7 FHIR, Composition merupakan resource untuk struktur dokumen, bukan resource khusus yang hanya digunakan untuk data diet. Penerapan dan pemetaan spesifik perlu mengacu pada playbook SATUSEHAT yang relevan.
Fasyankes perlu memastikan informasi yang diharapkan memang dicatat dan dipetakan sesuai spesifikasi integrasi.
6. Immunization — Data Imunisasi
Immunization mencatat informasi pemberian vaksin kepada pasien.
Data yang relevan dapat mencakup jenis vaksin, tanggal pemberian, dosis, petugas yang memberikan, serta informasi batch jika dipersyaratkan oleh alur dan implementasinya.
Contohnya adalah pemberian vaksin hepatitis B atau imunisasi dasar pada bayi.
Pencatatan yang lengkap membantu fasilitas kesehatan mengelola riwayat imunisasi secara terstruktur. Jika nomor batch dan informasi vaksin dikelola dalam sistem persediaan, integrasi antarfitur dapat membantu mengurangi kebutuhan input ulang.
7. MedicationRequest — Resep Obat
MedicationRequest merepresentasikan permintaan atau instruksi penggunaan obat yang dibuat oleh tenaga kesehatan.
Informasi resep dapat meliputi identitas obat, dosis, aturan penggunaan, rute pemberian, jumlah, serta durasi terapi sesuai kebutuhan.
Salah satu tantangan dalam integrasi farmasi adalah pemetaan master obat. Nama obat yang digunakan secara internal belum tentu sesuai dengan kode atau identitas produk yang dibutuhkan dalam pertukaran data.
Karena itu, fasyankes perlu meninjau master obat dan memastikan pemetaan yang diperlukan tersedia, terutama ketika terdapat obat baru atau perubahan produk.
8. MedicationDispense — Penyerahan Obat
MedicationDispense merepresentasikan proses penyiapan atau penyerahan obat kepada pasien.
Resource ini melengkapi informasi resep dengan data mengenai obat yang benar-benar diserahkan. Dalam praktiknya, jumlah atau produk yang diserahkan dapat berbeda dari permintaan awal karena alasan operasional yang perlu didokumentasikan.
Contohnya adalah penyerahan 15 tablet obat berdasarkan resep dokter.
Jika resep sudah tercatat tetapi proses penyerahan masih menggunakan pencatatan manual atau sistem terpisah, data penyerahan mungkin belum terhubung dengan baik. Integrasi antara modul resep dan farmasi membantu menjaga kesinambungan dokumentasi.
9. AllergyIntolerance — Alergi dan Intoleransi
AllergyIntolerance digunakan untuk merepresentasikan informasi mengenai alergi atau intoleransi pasien terhadap obat, makanan, atau zat lain yang relevan secara klinis.
Contohnya adalah alergi terhadap penisilin dengan reaksi tertentu atau riwayat alergi makanan.
Informasi alergi dapat membantu tenaga kesehatan mempertimbangkan risiko ketika memilih obat atau menentukan tindakan. Data ini juga bermanfaat ketika pasien memperoleh pelayanan di fasilitas kesehatan lain.
Fasyankes sebaiknya memiliki proses untuk menanyakan dan mendokumentasikan riwayat alergi. Kolom yang dibiarkan kosong tidak selalu dapat membedakan pasien yang belum ditanya dengan pasien yang telah dinilai tidak memiliki alergi.
10. ImagingStudy — Pemeriksaan Pencitraan
ImagingStudy merepresentasikan informasi mengenai studi pencitraan medis, seperti rontgen, CT scan, MRI, atau USG sesuai cakupan implementasi.
Informasi yang relevan dapat mencakup modalitas, bagian tubuh yang diperiksa, waktu pemeriksaan, serta referensi ke data pencitraan.
Pada fasilitas yang memiliki layanan radiologi, integrasi dapat melibatkan sistem informasi radiologi, PACS, dan alur pertukaran citra yang sesuai. Karena itu, pencatatan pemeriksaan pada RME belum tentu cukup jika sistem pencitraan belum terhubung sesuai kebutuhan teknis.
Fasyankes dengan layanan radiologi perlu mengevaluasi alur dari pelaksanaan pemeriksaan hingga pengiriman informasi pencitraan.
11. ServiceRequest — Permintaan Pemeriksaan atau Layanan
ServiceRequest merepresentasikan permintaan pemeriksaan atau layanan yang dibuat oleh tenaga kesehatan.
Contohnya meliputi permintaan pemeriksaan darah lengkap, rontgen toraks, atau layanan penunjang lainnya.
Resource ini merupakan bagian awal dari alur pemeriksaan. Dokter membuat permintaan, petugas mengambil sampel jika diperlukan, pemeriksaan dilaksanakan, lalu hasil didokumentasikan.
Jika permintaan masih menggunakan formulir kertas atau tidak terhubung dengan modul pemeriksaan, hubungan antara permintaan dan hasil dapat menjadi kurang konsisten.
12. ClinicalImpression — Penilaian Klinis
ClinicalImpression merepresentasikan penilaian klinis yang dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan informasi pendukung lainnya.
Contohnya adalah ringkasan penilaian kondisi pasien, pertimbangan klinis, serta prognosis sesuai konteks pelayanan.
Diagnosis dan penilaian klinis memiliki fungsi berbeda. Diagnosis menggambarkan kondisi yang diidentifikasi, sedangkan penilaian klinis dapat mencakup rangkuman pertimbangan yang mendasari evaluasi pasien.
Template RME yang menyediakan bagian asesmen secara terstruktur dapat membantu tenaga kesehatan mendokumentasikan informasi tersebut dengan lebih konsisten.
13. Specimen — Sampel Pemeriksaan
Specimen merepresentasikan sampel biologis yang dikumpulkan untuk pemeriksaan.
Contohnya adalah darah vena, urine, swab, atau sampel jaringan. Informasi yang relevan dapat mencakup jenis sampel, waktu pengambilan, petugas, dan pemeriksaan yang berkaitan.
Sampel perlu terhubung dengan permintaan pemeriksaan yang sesuai. Jika pencatatan spesimen baru dilakukan setelah hasil keluar, sebagian informasi proses pengambilan dapat menjadi kurang akurat.
Pencatatan pada saat sampel dikumpulkan membantu menjaga konsistensi data antara layanan klinis dan laboratorium.
14. DiagnosticReport — Laporan Hasil Pemeriksaan
DiagnosticReport merepresentasikan laporan hasil pemeriksaan diagnostik, misalnya laporan laboratorium atau laporan pembacaan radiologi.
Sebuah laporan dapat merangkum beberapa hasil pengukuran yang direpresentasikan melalui Observation. Sebagai contoh, laporan darah lengkap dapat mencakup hemoglobin, leukosit, trombosit, dan parameter lain sesuai pemeriksaan.
Penting untuk membedakan hasil individual dengan laporan yang merangkum hasil pemeriksaan. Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi.
Fasyankes juga perlu memperhatikan proses validasi hasil agar status laporan dan pihak yang bertanggung jawab tercatat sesuai alur pelayanan.
15. CarePlan — Rencana Perawatan
CarePlan merepresentasikan rencana perawatan yang disusun untuk mendukung tujuan pelayanan pasien.
Contohnya adalah rencana kontrol ulang, edukasi pasien, pemantauan penyakit kronis, atau tindak lanjut setelah konsultasi.
Instruksi seperti jadwal kontrol sering hanya dicatat sebagai teks di catatan dokter. Dengan pencatatan yang lebih terstruktur, informasi rencana perawatan dapat lebih mudah ditelusuri dan digunakan sesuai dukungan sistem.
Resource ini membantu membedakan rencana tindakan berikutnya dari tindakan yang sudah dilaksanakan.
16. MedicationStatement — Catatan Penggunaan Obat
MedicationStatement merepresentasikan informasi mengenai obat yang sedang atau pernah dikonsumsi pasien.
Contohnya adalah pasien yang rutin mengonsumsi amlodipin dari fasilitas lain atau menggunakan obat bebas dan suplemen.
Informasi ini dapat membantu tenaga kesehatan memahami riwayat pengobatan sebelum memberikan terapi baru. Dalam proses rekonsiliasi obat, data tersebut dapat menjadi bahan untuk meninjau kemungkinan duplikasi atau interaksi obat.
Karena itu, riwayat penggunaan obat sebaiknya memiliki bagian pencatatan yang jelas dalam proses anamnesis, bukan hanya mengandalkan catatan bebas.
17. QuestionnaireResponse — Jawaban Kuesioner
QuestionnaireResponse digunakan untuk merepresentasikan jawaban atas kuesioner atau formulir yang terstruktur.
Contohnya dapat berupa jawaban skrining kesehatan atau pengisian formulir tertentu dalam proses pelayanan.
Data terstruktur membantu menjaga konsistensi format jawaban sehingga informasi lebih mudah ditinjau dan dibandingkan sesuai kebutuhan.
Jika formulir masih sepenuhnya menggunakan kertas, fasyankes perlu mengevaluasi apakah informasi yang relevan harus dimasukkan ke RME dan bagaimana data tersebut dipetakan ke resource yang sesuai.
18. Medication — Data Obat
Medication merepresentasikan informasi mengenai produk atau zat obat yang digunakan dalam proses pelayanan.
Data yang relevan dapat mencakup identitas produk, nama, bentuk sediaan, kekuatan, dan informasi lain sesuai spesifikasi.
Resource ini berkaitan dengan resource obat lainnya. MedicationRequest merepresentasikan permintaan obat, sedangkan MedicationDispense merepresentasikan proses penyerahan obat.
Pengelolaan master obat yang konsisten membantu mengurangi ketidaksesuaian antara identitas produk di sistem internal dan data yang dibutuhkan untuk pertukaran informasi.
19. EpisodeOfCare — Rangkaian Pelayanan
EpisodeOfCare merepresentasikan rangkaian pelayanan yang berkaitan dengan kebutuhan atau kondisi pasien dalam suatu periode.
Contohnya adalah pemantauan penyakit kronis, rangkaian pemeriksaan kehamilan, atau program pengobatan yang membutuhkan beberapa kunjungan.
Resource ini berbeda dari Encounter. Satu Encounter merepresentasikan interaksi atau kunjungan tertentu, sedangkan EpisodeOfCare memberikan konteks yang lebih luas terhadap rangkaian pelayanan.
Pengelompokan tersebut dapat membantu fasilitas kesehatan memahami kesinambungan pelayanan sesuai kebutuhan dan implementasi yang berlaku.
Bagaimana 19 Resource Saling Terhubung dalam Pelayanan?
Resource-resource tersebut tidak selalu berdiri sendiri. Dalam satu kunjungan, beberapa resource dapat digunakan untuk merepresentasikan tahapan pelayanan yang berbeda.
Misalnya, pasien datang ke klinik karena demam. Alur dokumentasinya dapat mencakup:
Encounteruntuk mencatat kunjungan pasien.Observationuntuk mencatat suhu tubuh dan hasil pengukuran lain.Conditionuntuk mencatat diagnosis.ServiceRequestuntuk merepresentasikan permintaan pemeriksaan laboratorium.Specimenuntuk mendokumentasikan sampel yang diambil.Observationuntuk merepresentasikan hasil pemeriksaan individual.DiagnosticReportuntuk laporan hasil pemeriksaan.MedicationRequestuntuk resep obat.MedicationDispenseuntuk proses penyerahan obat.
Tidak setiap kunjungan menghasilkan seluruh resource tersebut. Jenis resource yang digunakan mengikuti layanan yang tersedia, data yang dihasilkan, dan kebutuhan implementasi.
Contoh tersebut memperlihatkan mengapa kelengkapan data perlu dinilai sebagai satu alur. Keberhasilan mengirim resep, misalnya, tidak otomatis membuktikan bahwa data penyerahan obat juga telah terkirim.
Dampak Jika Data Resource Belum Lengkap
Ketidaksesuaian atau kegagalan pengiriman data dapat menimbulkan beberapa konsekuensi operasional.
| Area | Potensi Dampak | Hal yang Perlu Dievaluasi |
|---|---|---|
| Kepatuhan | Data yang dipersyaratkan belum tersedia pada sistem tujuan | Status pengiriman dan ketentuan yang berlaku |
| Administrasi klaim | Ketidaksesuaian data dapat menambah kebutuhan klarifikasi | Kelengkapan dokumentasi dan kesesuaian kode |
| Kesinambungan pelayanan | Informasi alergi atau obat mungkin tidak tersedia di fasilitas tujuan | Kelengkapan riwayat klinis yang relevan |
| Operasional | Petugas perlu melakukan pemeriksaan dan koreksi berulang | Proses validasi dan penanganan kegagalan |
| Pelaporan | Data yang tidak lengkap dapat memengaruhi konsistensi informasi | Kualitas data dan keterkaitan antarresource |
Dampak aktual bergantung pada jenis fasilitas, layanan yang tersedia, ketentuan yang berlaku, serta data yang belum terkirim. Karena itu, evaluasi perlu dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing fasyankes.
Cara Memeriksa Kelengkapan Pengiriman Resource SATUSEHAT
Tim rekam medis dan teknologi informasi dapat melakukan pemeriksaan secara berkala dengan langkah berikut.
1. Periksa Dashboard SATUSEHAT
Buka dashboard monitoring yang tersedia bagi fasyankes dan pastikan lingkungan yang diperiksa adalah production jika tujuan pemeriksaan adalah memverifikasi pengiriman data operasional.
Catat resource yang sudah terkirim, status pengiriman, dan volume data yang terlihat pada periode pemantauan.
2. Cocokkan Data dengan Layanan Fasyankes
Daftar resource yang relevan perlu disesuaikan dengan layanan yang benar-benar diselenggarakan.
Sebagai contoh, fasilitas dengan laboratorium perlu mengevaluasi alur permintaan pemeriksaan, spesimen, hasil pengukuran, dan laporan. Fasilitas dengan layanan farmasi perlu memperhatikan resep, penyerahan obat, serta identitas produk obat.
Tidak setiap fasilitas wajib menghasilkan data untuk seluruh jenis layanan yang tidak dimilikinya.
3. Telusuri Titik Input Data
Jika terdapat resource yang kosong atau volumenya tidak sesuai dengan aktivitas pelayanan, periksa proses pencatatan di unit terkait.
Beberapa contoh yang dapat ditinjau:
- Diagnosis masih berupa teks bebas dan belum dipetakan ke kode yang diperlukan.
- Tanda vital ditulis dalam catatan umum, bukan kolom pengukuran terstruktur.
- Tindakan tercatat pada sistem tagihan tetapi belum terdokumentasi pada catatan klinis.
- Master obat belum memiliki pemetaan yang sesuai.
- Data sampel atau laporan pemeriksaan tidak terhubung dengan permintaan.
- Sistem pencitraan belum terhubung dengan alur integrasi yang diperlukan.
4. Bedakan Pengujian dengan Pengiriman Operasional
Hasil pengujian di sandbox berguna untuk memeriksa format dan proses integrasi. Namun, hasil tersebut berbeda dari bukti bahwa data operasional telah berhasil dikirim ke production.
Ketika mengevaluasi penyedia RME, mintalah penjelasan mengenai cakupan resource yang didukung dan cara memverifikasi keberhasilan pengiriman di lingkungan operasional.
5. Jadwalkan Evaluasi Berkala
Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara rutin dan diulang ketika fasyankes menambah layanan baru. Pembukaan layanan laboratorium, radiologi, farmasi, atau rawat inap dapat memunculkan kebutuhan data dan integrasi yang berbeda.
Memilih RME yang Mendukung Integrasi SATUSEHAT
Sistem RME berperan dalam proses pencatatan, pengelolaan, dan pertukaran data pelayanan. Karena itu, pemilihan sistem sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan operasional fasyankes sekaligus dukungan interoperabilitasnya.
Sebelum memutuskan, beberapa hal yang dapat ditanyakan kepada penyedia RME meliputi:
- Resource apa saja yang didukung dan sesuai dengan kebutuhan layanan?
- Bagaimana sistem memvalidasi kode serta struktur data?
- Apakah status pengiriman dan kegagalan dapat dipantau?
- Bagaimana pengguna memperbaiki data yang ditolak atau belum terkirim?
- Apakah tersedia pelatihan dan dukungan teknis?
- Bagaimana penyedia membuktikan implementasi integrasi di lingkungan production?
eHealth.co.id menyediakan solusi RME untuk mendukung digitalisasi operasional fasilitas kesehatan, termasuk pilihan eHealth Lite untuk kebutuhan praktik mandiri dan klinik kecil.
Fasyankes yang mempertimbangkan solusi eHealth dapat mempelajari informasi produk melalui website eHealth.co.id atau halaman eHealth Lite. Untuk kebutuhan SATUSEHAT secara spesifik, konfirmasikan cakupan resource, alur pengiriman, dan status implementasi yang tersedia kepada tim eHealth sebelum mengambil keputusan.
Kesimpulan
Sembilan belas resource SATUSEHAT merepresentasikan beragam informasi dalam pelayanan kesehatan, mulai dari kunjungan, diagnosis, hasil pengukuran, tindakan, obat, hingga rencana perawatan.
Setiap resource memiliki fungsi tersendiri, tetapi keberhasilan pertukaran data juga bergantung pada hubungan antarresource, kualitas pencatatan, penggunaan terminologi yang sesuai, dan validasi data.
Fasyankes dapat memulai evaluasi dengan membandingkan layanan yang tersedia terhadap resource yang relevan, memeriksa status pengiriman di production, serta menelusuri proses input ketika ditemukan data yang belum lengkap.
Dengan memahami alur tersebut, pengelola fasyankes dapat menilai kesiapan integrasi RME secara lebih terarah dan menentukan perbaikan yang sesuai dengan kebutuhan operasional.
FAQ Seputar Resource SATUSEHAT
Apa saja 19 resource SATUSEHAT?
Daftarnya mencakup Encounter, Condition, Observation, Procedure, Composition, Immunization, MedicationRequest, MedicationDispense, AllergyIntolerance, ImagingStudy, ServiceRequest, ClinicalImpression, Specimen, DiagnosticReport, CarePlan, MedicationStatement, QuestionnaireResponse, Medication, dan EpisodeOfCare.
Apakah setiap fasyankes wajib mengirim seluruh 19 resource?
Resource yang dihasilkan bergantung pada jenis layanan, kebutuhan implementasi, dan ketentuan yang berlaku. Fasilitas tanpa layanan tertentu tidak otomatis menghasilkan data untuk resource yang khusus berkaitan dengan layanan tersebut. Fasyankes tetap perlu memeriksa kewajiban spesifik berdasarkan regulasi dan petunjuk teknis terbaru.
Apa perbedaan Encounter dan EpisodeOfCare?
Encounter merepresentasikan interaksi atau kunjungan tertentu. EpisodeOfCare menggambarkan rangkaian pelayanan dalam konteks kebutuhan perawatan yang lebih luas.
Apa perbedaan Observation dan DiagnosticReport?
Observation merepresentasikan hasil pengukuran atau pengamatan individual. DiagnosticReport merepresentasikan laporan pemeriksaan yang dapat merangkum sejumlah hasil dan informasi diagnostik terkait.
Apa perbedaan MedicationRequest dan MedicationDispense?
MedicationRequest merepresentasikan permintaan atau resep obat. MedicationDispense merepresentasikan proses penyiapan atau penyerahan obat. Keduanya melengkapi dokumentasi mengenai obat yang diresepkan dan yang diserahkan.
Apa perbedaan sandbox dan production?
Sandbox merupakan lingkungan pengujian, sedangkan production digunakan untuk pertukaran data operasional. Keberhasilan uji sandbox tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh data fasyankes telah terkirim dengan benar di production.
Bagaimana mengetahui apakah RME sudah mendukung resource SATUSEHAT?
Mintalah daftar cakupan resource yang didukung, dokumentasi integrasi, mekanisme pemantauan, serta bukti pengiriman di lingkungan production yang relevan. Verifikasi juga apakah cakupan tersebut sesuai dengan layanan fasyankes.
Apakah integrasi SATUSEHAT berpengaruh pada proses klaim BPJS?
Kebijakan dan ketentuan mengenai integrasi RME dalam pengelolaan klaim JKN perlu diperhatikan oleh fasyankes. Kelengkapan dan konsistensi dokumentasi dapat membantu mengurangi masalah administratif, tetapi persyaratan klaim harus selalu diverifikasi berdasarkan aturan resmi terbaru.
Referensi
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis.
- Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1423/2022 tentang Pedoman Variabel dan Metadata pada Penyelenggaraan Rekam Medis Elektronik.
- Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/MENKES/1030/2023.
- Surat Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Nomor YM.02.02/D/971/2026 tentang Pemberian Sanksi terhadap Penyelenggaraan Rekam Medis Elektronik di Rumah Sakit.
- Surat Edaran Bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, BPJS Kesehatan, dan BSSN tanggal 30 Juli 2026 mengenai percepatan implementasi RME terintegrasi SATUSEHAT dalam pengelolaan klaim JKN.
- Dokumentasi Interoperabilitas SATUSEHAT, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Dokumentasi HL7 FHIR mengenai resource klinis dan pertukaran data kesehatan.












